penyakit riya

Penyakit Riya dan Cara Menyembuhkan Hati dari Penyakit itu

Sebagaimana diketahui bahwa penyakit riya dapat menghancurkan pahala seseorang dan merupakan sebab dari kemurkaan Allah. Riya juga merupakan salah satu perbuatan dosa besar. Dengan demikian, seseorang harus berusaha untuk menghilangkan penyakit ini dari dalam hatinya, walaupun sangatlah berat, sebagaimana halnya orang yang ingin sembuh dari penyakitnya, ia harus siap minum obat bagaimanapun pahitnya. Penyakit riya merupakan penyakit yang harus disembuhkan oleh setiap orang muslim.
Oleh karena itu, penyembuhannya terdapat dua tingkat. Pertama, melepaskan sampai akar-akarnya dan kedua, mencegah akibat-akibat buruk yang muncul dari penyakit riya ketika melakukan ibadah.
Tingkat pertama, melepaskan penyakit riya sampai akar-akarnya. Akar penyakit riya adalah cinta kedudukan dan jabatan. Apabila diuraikan menjadi tiga macam, yaitu senang mendapat pujian, takut mendapat ejekan, dan rakus terhadap apa yang dimiliki orang lain.
Abu Musa al-Asy`ari menceritakan bahwa pada suatu hari, seorang badui bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah saw, bagaimana seorang yang berperang untuk melindungi dirinya? Bagaimana seorang yang berperang untuk mendapatkan kedudukan? Bagaimana seorang yang berperang untuk mendapat pujian orang lain?” Kemudian Rasulullah saw, menjawab, “Barangsiapa yang berperang semata-mata untuk menegakkan kalimat Allah maka ia berada di jalan Allah (fi sabilillah, mendapat pahala perang atau mati dalam keadaan syahid). (Muttafaq `alaih)
Rasulullah juga bersabda, “Barang siapa yang berperang hanya untuk mendapatkan harta rampasan maka ia mndapatkan apa yang diniatkan” (an-Nasa`i)
Ini merupakan peringatan bagi orang yang tamak kepada harta dunia. Terkadang, seseorang tidak tamak kepada harta atau tidak senang mendapatkan pujian, akan tetapi ia takut mendapatkan ejekan dari orang lain seperti dikatakan kikir, maka ia bersedekah walaupun cuma sedikit, atau dikatakan sebagai pengecut, maka ia tidak lari dari medan peperangan. Atau seorang yang selalu melakukan shalat sunnah di malam hari karena takut dikatakan sebagai pemalas, atau seorang murid yang tidak mau bertanya tentang sesuatu yang ia tidak ketahui karena takut dikatakan sebagai orang bodoh. Orang seperti itu tidak tamak dan tidak haus pujian, melainkan takut mendengar ejekan dari orang lain. Karena terkadang, seseorang bisa sabar untuk tidak mendapat pujian dari orang lain, akan tetapi ia tidak sabar untuk mendapat ejekan. Oleh karena itu, sebab diatas (haus pujian, takut ejekan dan tamak) merupakan akar dari penyakit riya.
Sebagaimana telah diketahui dan maklumi bahwa seseorang menginginkan sesuatu baik berupa barang atau manusia karena benda itu memberikan manfaat dan kenikmatan. Apabila ia mengetahui benda itu memberi kenikmatan, tapi satu segi tidak memberikan manfaat melainkan bahaya maka ia akan meninggalkan benda itu. Misalnya madu yang telah diketahui merupakan minuman yang memberikan kenikmatan, tetapi ketika ia mengetahui madu itu bercampur racun, maka ia membuangnya. Begitu pula dengan penyakit riya, satu segi memberikan kebahagiaan didalam hati kita, tapi satu segi menghalangi kita mendapatkan taufiq (petunjuk dari Allah) dan kedudukan mulia kelak di akherat melainkan siksaan yang akan didapatkannya. Apa yang harus kita lakukan? Barangsiapa yang meyakini bahwa kenikmatan di akherat dan kedudukan yang mulia di sisi Allah akan kekal selamanya, maka ia akan meninggalkan kenikmatan dunia yang menghalanginya mendapatkan kenikmatan akherat dan ia tidak akan menghiraukan penilaian orang selama ia meyakini bahwa Allah memuliakannya.
Pengobatan secara praktek adalah dengan melakukan ibadah secara sembunyi-sembunyi atau berusaha agar orang lain tidak mengetahui ibadah yang dilakukannya, seperti menutupi perbuatan jelek yang kita lakukan. Cara ini terus dilakukan hingga tidak memerlukan orang lain mengetahui ibadah yang telah dilakukan, akan tetapi cukup Allah yang mengetahuinya. Sungguh tidak ada obat yang paling mujarab untuk penyakit riya selain sembunyi-sembunyi dalam beribadah. Ini memang sulit dilakukan bagi orang baru memulainya, tetapi semakin lama beban itu ia hadapi, maka beban yang awalnya sangat berat akan menjadi ringan dan akhirnya ia akan merasakan kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya melalui taufiq dan hidayah yang diberikannya.
Allah berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar Ra’d :11)
Hamba yang berusaha dan Allah yang memberikan hidayah. Hamba yang mengetuk pintu dan Allah yang membukanya. Allah berfirman,
“…..Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik…” (At Taubah : 120)
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (An Nisaa’ : 40)
Tingkat kedua, mencegah akibat-akibat buruk yang muncul dari penyakit riya ketika beribadah. Setelah melakukan upaya pertama dengan tidak menghiraukan pujian dan ejekan orang lain atau tidak tamak, maka tetap harus berwaspada ketika melakukan ibadah karena setan selalu menggoda manusia walaupun dalam keadaan beribadah. Janganlah berhenti melepaskan diri dari hawa nafsu yang terus mengembuskan penyakit riya kepadanya dan selalu berhati-hati cara setan menjerumuskan manusia kepada perbuatan riya, yaitu pertama diembuskan keinginan agar orang memuji apa yang dilakukan dan ia mendapatkan kemuliaan di mata mereka.
Lintasan-lintasan riya ada tiga macam. Cara pertama disebut dengan mengetahui (ma`rifah), cara kedua disebut syahwat, dan ketiga disebut perbuatan yang disebut azam atau tekad.
Maka sebelum cara kedua diembuskan setan ke dalam hati, kita harus dapat mengatasi cara pertama yaitu membuang keinginan agar orang lain mengetahui apa yang kita lakukan dan katakan kepada hati kecil kita, “Apa urusan orang lain mengetahui atau tidak mengetahui apa yang telah kita lakukan. Cukuplah apabila Allah telah mengetahuinya dan apa manfaat orang lain mengetahui perbuatan kita?”
Apabila ada di hati kita keinginan untuk mendapat pujian dari orang lain, maka sadarlah bahwa hal itu adalah salah satu penyakit riya yang membawa kepada kemurkaan Allah, diakherat kelak akan menjadikan amal perbuatan kita sia-sia. Sebagaimana diketahui bahwa keinginan agar orang lain mengetahui apa yang dilakukan merupakan syahwat yang di embuskan setan untuk membawa kepada perbuatan riya. Oleh karenanya, mengetahui bahaya dari perbuatan riya akan menimbulkan kebencian terhadap melakukan perbuatan itu. Syahwat akan menyerukan untuk melakukan sedangkan kebencian (karahah) akan menyerukan untuk menolaknya. Diri kitalah yang akan memilih mana yang lebih kuat dari keduanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s